Aku mengingatnya,
Ketika itu mama terbaring sakit di atas tempat tidur, di rumah kami yang sangat sederhana di ibukota. Kami hanyalah anak-anak kecil mama yang tak mengerti harus bersikap bagaimana. Sedangkan papa tengah mengais rezeki di kantor, tak mungkin kami merecokinya. 'Dia' merangkul aku dan adik yang sedih karena mama sakit. Membujuk kami agar mencoba memasakkan sesuatu untuk mama, walau kami tahu bahwa kami tak bisa melakukannya dengan baik.
Aku mengingatnya,
Ketika aku mendengar teriakan-teriakan tak wajar'nya', keluh kesah, juga sumpah serapah'nya. Yang tak kupahami maksudnya, sejak kami pindah rumah ke kota kecil. Aku...hanya bisa diam, menutup rapat mulut kecilku dan merangkul adikku.
Ah, aku dan adik...selalu saja berdua merasakan hal yang sama. Hal yang bernama kebingungan dan ketakutan.
Aku mengingatnya,
Ketika 'dia' mulai mengeluarkan kata-kata kotor yang ditujukan pada kami. Pisuhan ala Jawa dan Betawi yang bercampur. Tanpa kami mengerti sama sekali, apa maksudnya. Tanpa kami mengerti sama sekali, apa salah kami pada'nya'.
Tetap saja, kami masihlah anak kecil yang tak peka. Hanya menurut saja apa kata mama, "Jangan didengerin, 'dia' lagi ada masalah."
Aku mengingatnya,
Ketika pukulan mulai mendarat di beberapa bagian tubuhku, ketika tendangan tak mampu kuelakkan. Begitu pula yang terjadi pada mama dan adikku. Ah, kenapa kami mendapat perlakukan yang sama dari'nya'? Ada apa?
Aku mengingatnya,
Ketika aku merintih kesakitan karena beberapa bagian tubuhku lebam. Ketika adik dan mama merasakan hal yang sama. Dan masil saja dalam ketidakmengertianku, ada apa sebenarnya?
Aku mengingatnya,
Ketika aku berusaha melawan, memberontak, membalas perlakuan kasar'nya' padaku, pada adik, dan pada mama. Di saat yang sama, tenagaku tak mampu melawannya. Perlawananku tak ada maknanya apa-apa.
Bibirku kelu tak mampu berucap lagi. Mama membungkamku, bukan dengan tangannya tapi hanya dengan sifat penyabarnya. "Mama bisa sabar, kenapa aku tidak?" pikirku waktu itu.
Aku mengingatnya,
Ketika 'dia' selalu bermanis-manis di depan papa, sementara ancaman selalu kudapat di belakangnya. Aku, adik juga...diancam untuk tidak melapor pada papa tentang perlakukan kasar'nya' pada kami.
Memang aku tak pernah mengadu pada papa, bukan karena 'dia' yang mengancam lalu kuturuti. Tapi, mamalah yang selalu memintaku (juga adik) untuk tidak membebani papa dengan masalah di rumah. "Papa pasti sudah capek di kantor, jangan ditambahi lagi dengan masalah di rumah," kata mama selalu terngiang hingga menahanku untuk tak bersuara di depan papa.
Baru kusadari sekarang, aku sudah diajak untuk berpikir dewasa sejak aku masih di sekolah dasar...
Aku mengingatnya,
Ketika aksi'nya' semakin brutal menyakiti tiga perempuan di rumah. Meneror kami dengan segala kekejaman yang membuahkan trauma.
Dan aku selalu tak memiliki daya untuk membalas tiap kekasaran'nya'. Padahal, aku tak sesabar mama, sungguh aku tak bisa menahan gejolak amarah dalam hati. Damn! Aku hanya bisa meneteskan air mata atau memilih untuk tidak berada di rumah. Ah, untungnya saluran eksplorasi diriku ke arah yang positif.
Aku mengingatnya,
Ketika stik golf itu melebamkan kaki mama, padahal kala itu mama tengah hamil adikku yang kedua. Ya Allah, ini apa? Mamaku? Ibuku? Bundaku? Sumpah ingin ku tak sekadar teriak saat itu (bahkan tak cuma teriak).
Andai ada yang tahu, seperti apa emosi gadis kecil yang teramat mencintai mamanya kemudian melihat dengan mata kepala sendiri ketika mamanya disakiti?
Crab! Disakiti seperti itu, mama masih bisa sabar dan memaafkan'nya'? Kesabaran macam apa yang mama punya, tak berbagi dengan papa pula. Ow GoD...
Aku mengingatnya,
Ketika tamparan demi tamparan, tendangan demi tendangan, lemparan demi lemparan menjadi makananku sehari-hari di rumah.
Mendengar suara piring dilempar, gelas dilempar, "Prang...prang...prang...". Akhirnya jadi sangat familiar di telingaku. Belum lagi pintu kamar yang ditendang dengan kekuatan ala setan marah, entah berapa kali sudah pintu kamarku dan adik jebol...
Ketakutan...ketakutan...dan ketakutan lagi. airmata...airmata...dan airmata lagi...
Memunguti serpihan kaca yang khawatir menelisip di kaki. Membenahi pintu yang tampak peyot dan reyot supaya tak dicurigai papa...Itulah yang kami lakukan untuk'nya'.
Aku mengingatnya,
Ketika jantung ini berdegup sangat kencang tiap kali berjarak dekat dengan 'dia'. Aku sadar, degup itu hanya akibat dari rasa takut yang teramat sangat. Telapak tangan terasa beku dan kadang juga gemetaran.
Ya Allah, 'dia' bukan mama yang mengandungku, bukan papa yang menafkahiku, kenapa begini?
Aku mengingatnya,
Ketika rokok yang menyala itu dijulur-julurkan ke wajahku, abu panasnya mengenai tanganku. Dan ketika kepalaku didorong hingga kerap aku tersungkur.
Aku memang membalas. Tapi, hanya bisa membalas semampuku, dan tetap saja energiku tak mampu mengalahkannya. Yang tersisa hanya airmata, ketakutan, dan kebencian yang teramat.
Aku mengingatnya,
Ketika kata-kata penuh kenistaan dilontarkan'nya' padaku. Bukan sakit fisik saja, psikologisku sudah trauma tak karuan juga mestinya.
Aku hanya bisa mengajak'nya' bertengkar mulut dengan sedikit ilmu. Dan faktanya 'ia' tak pernah menang. Sehingga serangan fisik pun selalu menjadi ujung kemenangan'nya' menaklukkan aku.
Aku mengingatnya,
Ketika aku dipermalukan di hadapan teman-teman dekatku. Ketika 'ia' merusak semua hubungan baikku dengan teman-temanku. Tanpa sedikitpun meminta maaf padaku dan terus saja mencaci dan menyerangku.
Ya Allah, kesakitan apalagi yang harus kualami karena'nya'?
Aku mengingatnya,
Ketika ia memfitnah keluarga'nya' di hadapan para wanita yang hanya diisap madunya. Haruskah aku memisuh demi orang seperti 'dia'? Atau, pisuhan macam apa yang bisa kuteriakkan pada'nya'?
Aku mengingatnya,
Ketika batas kesabaranku habis, dan aku berusaha sekuat tenaga membalas semua kesakitanku.
Aku tak bisa! Hanya mampu berteriak, berusaha menyerang tanpa pedulikan fisikku (yang ternyata tak pernah kuat). Selalu dan selalu, kesesakkan hatiku hanya berujung pada kondisi tak sadarkan diri. Aku seperti pesakitan dibuat'nya'.
Aku mengingatnya,
Ketika aku sudah mulai mandiri, berusaha sekuat tenaga untuk mengurangi beban orangtua, dan 'dia' masih sangat tergantung. Tak sedikitpun 'ia' malu padaku atau adikku yang selalu berusaha menjadi yang terbaik hanya untuk orangtua. Tetap saja, tak henti meminta injeksi dana untuk biaya hidup mewah'nya'. Aku hanya bisa merana untuk ke sekian kali menghadapi'nya'.
Aku mengingatnya,
Ketika terakhir bertemu, hanya keapatisan yang bisa kutunjukkan pada'nya'. Pertengkaran, terjadi lagi. Adik kecilku ketakutan, ia merengkuhku seakan memohon agar aku tetap kuat. Sayang aku tak bisa, lagi-lagi aku tumbang. Pingsan di hadapan semua keluarga.
Sungguh, traumaku pada'nya' sangat mendalam hinggaku tak mampu menahan semua ini dan mengalirkannya dalam satu postingan blog.
Aku mengingatnya, dan akan selalu mengingatnya...karena bagaimanapun juga, 'dia' adalah seseorang yang seharusnya kupanggil kakak. Sayang, hanya ada satu masa manis dengan'nya' seumur hidupku bernapas. Tak sekalipun aku pernah merasakan bahagianya menjadi seorang adiknya. That's why, there are anyone out there whom i respect as my old bro. Then, who will treat me as a lil sister?
Hahaha...kutunggu kehilanganmu kelamku...
Recent Comments