« October 2007 | Main | December 2007 »

:: Brain Freeze ::

Hahahaha...niy title aneh2 aja, apa coba maksudnya. Padahal aku cuma mau bilang kalo otakku membeku. Huh...gara2nya edisi ini tulisanku membabi buta dalam waktu yang sesingkat2nya. Mungkin bukan masalah waktu yang dikit dan jumlah yang banyak, tapi krn narasumber yang kuwawancara kurang bisa menjelaskan topik yang kuangkat.

Dear, basic kualitas sebuah artikel itu kan lebih sering bertumpu pada penulisnya, huhuhuhu...Tetep aja, till now, kesimpulannya aku masih sangat jauh dari kesempurnaan seorang penulis.

Ada satu hal yang baru kusadari, proses penulisan itu tergantung ama waktu wawancaranya. Kalau pas wawancara lancar2 aja dan emang jalannya enak, pasti nulisnya gampang.

Tapi hati2...ada dua potensi 'kesalahan' yang bisa terjadi deket narasumber. Satu, salah nanya. Ini termasuk salah pertanyaan dan salah cara bertanya.

Dua, salah narasumber. Artinya, narasumber yang diwawancara itu kurang kompeten atau emang dia telanjur masuk dalam golongan orang yang menyebalkan untuk diwawancara. So that, kalo 2 hal ini kejadian salah satunya aja, pasti tersendat2 deh nulisnya.

Back to the topic, otakku terasa beku karena kemampuan olah pikir dan olah kataku udah aus sejak dipake beberapa hari lalu. Huh! Sampe mau nangis deh rasanya gara2 buntu banget tadi T_T

Untung aja sekarang udah jauh lebih mendingan, hehehe...Sekarang, tinggal ngantuk yang menyerangku, huhuhuhu...

                            

:: Maukah, Genggam? ::

Kala harap itu datang
rasanya layangkan asaku
Tapi benang itu diputus,
hingga aku...
melayang begitu saja,
entah ke mana...
hingga kini pun
tak kusadari
Tapi,
andai ia tahu
terbang ke mana pun,
aku akan selalu kembali,
kali ini,
dengan benang baru
ingin kuberikan lagi padanya
Tutup mata,
aku tahu
benangku pasti lebih indah
lebih kuat
dan akan sangat sulit
terlepas dari jemarinya
Namun tetap saja, 
aku bertanya-tanya:
"Maukah ia genggam benang baru ini?"

:: Ingin Dia ::

Aku ingin merengkuhnya,
tapi kenapa sulit?
Karma lagi,
inikah yang kurasa?
Kuatkan hati,
entah untuk apa
Cekat nafas,
nyaris biasa
Ada takut, ada dilema
satu keyakinan
di tengah semuanya
aku ingin dia
aku yakin aku ingin dia
itu saja!

:: Satu Tanya ::

Aku ingin bertanya...
Satu pertanyaan saja,
cukup!
Mengapa harapan itu ada?

:: Aku di Sini ::

Aku di sini,

Menata ulang bentukku

Agar kau tak jengah

Aku di sini,

Jernihkan pikir

Buang jauh keruh yang lalu

Aku di sini,

Rangkai indah diri

Demi persembahanku nanti

Aku di sini,

Menancapkan akar pohon empati

Ingin kutuai buah jaga hati

Aku di sini,

Selami dalam samudera hati

Dan kunikmati

Aku di sini,

Bukan untuk siapa

Hanya untukmu saja

Aku di sini,

Masih dengan rasa

Utuh, bahkan lebih

Aku di sini,

Tak mau menoleh

Selain padamu saja

Aku di sini,

Ingin kau percaya

Tak kan lagi ulang trauma

Aku di sini,

Siapkan hati

Berharap tak tersia

Aku di sini,

Hembuskan asa agar menjelma

Berujung suka cita

Aku di sini,

Tak kan ucap kata lagi

Biarkan hatimu bicara

Ndut, aku di sini...

Menanti!

:: Shiny Saturday ::

Aku benar-benar bahagia! Sangat bahagia malah. Ketika hari Sabtu (17/11) datang dalam hidupku. Entah berapa lama aku menanti momen itu, dan aku mendapatkannya meskipun dengan jalan yang berbeda. Tak apa, aku tetap menikmatinya, setiap waktu yang berlalu sebelum aku tiba di kantor biru-ku.

Sebelum posting tadi, aku sampai berpikir, "Menangis dengan Alasan (2) akan jadi title yang menarik." Tapi enggak ah, that was Shiny Saturday, so...it will be better title for this story ^_^

Malam sebelum Shiny Saturday,

Adinda'nya' menghubungiku. Awalnya ia bertanya apa aku bekerja besok. Then i said that my work time is flexible (and it's one of my pleasure, working in media)...She asked me to come to her graduation day, of course with her family. (Owwww...so sweet...can you imagine how's my feeling at that time?).

Itu sebuah kejutan bagiku. Kejutan yang teramat membahagiakan hingga aku tak tahu bagaimana harus kuputuskan. Acaranya lho sembilan jam lagi, hehehe...

Sejujurnya, aku sempet ragu untuk mengiyakan. Aku takut kalau saja 'dia' merasa tak nyaman. That's why, aku tanya ke 'dia' dengan hati-hati. Aku nggak tau apa yang dia pikirin saat itu, but he said that i've to decide by myself. Dengan modal nekat, acuh, dan berharap hari itu akan jadi momen yang sangat menyenangkan...finally aku bilang kalo aku mau ikut ^_^

Hampir nggak bisa tidur juga malam itu. Bingung mau pake baju apa, sepatu apa, make up gimana, mereka-reka gimana harus bersikap pas besok ketemu 'dia', adik'nya', juga orangtua'nya'. (That will be my first time enjoying my day with them only).

Di tengah kebingungan, aku mutusin buat tampil apa adanya. Aku nggak milih2 baju atau sepatu, aku juga nggak mau ngerencanain gimana besok aku harus bersikap, aku lebih memilih tidur biar besoknya nggak bangun kesiangan. Bagiku, hal yang terpenting adalah aku nyaman dengan kondisiku. Soalnya kalau aku nyaman, aku lebih PeDe membawa diri. Then, zzzzzzzzzzz....zzzzzzzzz...

Shiny Saturday comes...

Aku bangun pagi, mandi, dan sholat. Abis itu baru berbenah macem2 sampai akhirnya dijemput 'dia' (ah, senangnya =_= ). Pas ortu'nya' dateng, barulah aku menyadari, aku agak salah kostum, hehehe...lebih tepatnya sih salah pilih warna, hihihi...Tapi gak pa-pa, aku bertekad buat tetep PeDe biar nggak salting karepe dhewe...

Aku seneng bisa cium tangan ibu dan bapak. Aku seneng bisa ngasih sesuatu itu langsung ke adik'nya' juga ke ibu (biasanya kan lebih sering titip 'dia'). Aku seneng bisa rangkul atau sekadar menggandeng ibu dari belakang. Aku seneng bisa duduk di antara 'dia' dan ibu. Aku seneng bisa dengerin ibu cerita tentang banyak hal. Aku seneng bisa berkomentar atau berbagi sama ibu. Aku seneng melihat ibu respek padaku. Aku seneng mendengar ibu menawariku sesuatu atau sekadar mengawali pembicaraan. Aku seneng melihat ibu dan bapak berbicara dengan penuh keakraban. Aku seneng menyaksikan ibu dan bapak saling melontarkan kata yang bermuatan guyon. Aku seneng melihat bapak yang merajuk minta foto bareng ibu.

Aku seneng bisa melihat adinda'nya' memakai gordon kebesaran yang dijahit sedikit, juga toga bertali putih. Aku seneng melihat adinda'nya' melangkah riang menuju tenda dengan riasan apik di wajahnya dan sekuntum korsase bunga putih di samping telinganya. Aku seneng melihat adinda'nya' tampak sangat gembira bisa mengambil gambar bersama teman-temannya. Aku senang bisa menyaksikan adinda'nya' bersalaman dengan dekan juga rektor di atas panggung yang setahun lalu juga kuinjak ^_^. Aku seneng bisa membenahi riasan rambutnya. Aku seneng bisa menyaksikan adinda'nya' bermanja-manja pada sang kakak (That was really exciting moment. Ndut, adik tuw sayang banget lho ama kamu!)

Aku seneng nemenin 'dia' jemput adik dan ortu'nya' di rumah saudara. Aku seneng nemenin 'dia' parkir mobil, naik bis, sampe jalan bareng ke tenda. Aku seneng bisa lihat 'dia' dengan segala kebiasaannya (salah satunya, nguap nggak ditutup, hehehe...). Aku seneng liat wajah ngantuknya (bahkan sempet ketiduran juga tuh! ^_^). Aku bangga jalan di samping'nya'. Aku menikmati tiap gesture'nya' yang masih mengisyaratkan rasa itu (Sungguh, aku sangat menikmatinya. Desir hangat Sabtu lalu pun masih menghinggap di relung hati. Andai sejenak bisa kuhentikan waktu, aku ingin lebih lama bersama'nya'). Oya, aku juga bahagia...ada gambarku bersama'nya', yang diambil di hadapan ibu, bapak, dan adik.

Shiny Saturday...

Aku ingin lebih lama mendekap kenyamanan ini. Aku seneng banget bisa berada di dekat mereka semua, sungguh...

Thanks for the moment that YOU given to me, GOD...(Thanks for adik who give me the invitation, i do really appreciate it).

I wish...

:: Kelamku ::

Aku mengingatnya,

Ketika itu mama terbaring sakit di atas tempat tidur, di rumah kami yang sangat sederhana di ibukota. Kami hanyalah anak-anak kecil mama yang tak mengerti harus bersikap bagaimana. Sedangkan papa tengah mengais rezeki di kantor, tak mungkin kami merecokinya. 'Dia' merangkul aku dan adik yang sedih karena mama sakit. Membujuk kami agar mencoba memasakkan sesuatu untuk mama, walau kami tahu bahwa kami tak bisa melakukannya dengan baik.

Aku mengingatnya,

Ketika aku mendengar teriakan-teriakan tak wajar'nya', keluh kesah, juga sumpah serapah'nya. Yang tak kupahami maksudnya, sejak kami pindah rumah ke kota kecil. Aku...hanya bisa diam, menutup rapat mulut kecilku dan merangkul adikku.

Ah, aku dan adik...selalu saja berdua merasakan hal yang sama. Hal yang bernama kebingungan dan ketakutan.

Aku mengingatnya,

Ketika 'dia' mulai mengeluarkan kata-kata kotor yang ditujukan pada kami. Pisuhan ala Jawa dan Betawi yang bercampur. Tanpa kami mengerti sama sekali, apa maksudnya. Tanpa kami mengerti sama sekali, apa salah kami pada'nya'.

Tetap saja, kami masihlah anak kecil yang tak peka. Hanya menurut saja apa kata mama, "Jangan didengerin, 'dia' lagi ada masalah."

Aku mengingatnya,

Ketika pukulan mulai mendarat di beberapa bagian tubuhku, ketika tendangan tak mampu kuelakkan. Begitu pula yang terjadi pada mama dan adikku. Ah, kenapa kami mendapat perlakukan yang sama dari'nya'? Ada apa?

Aku mengingatnya,

Ketika aku merintih kesakitan karena beberapa bagian tubuhku lebam. Ketika adik dan mama merasakan hal yang sama. Dan masil saja dalam ketidakmengertianku, ada apa sebenarnya?

Aku mengingatnya,

Ketika aku berusaha melawan, memberontak, membalas perlakuan kasar'nya' padaku, pada adik, dan pada mama. Di saat yang sama, tenagaku tak mampu melawannya. Perlawananku tak ada maknanya apa-apa.

Bibirku kelu tak mampu berucap lagi. Mama membungkamku, bukan dengan tangannya tapi hanya dengan sifat penyabarnya. "Mama bisa sabar, kenapa aku tidak?" pikirku waktu itu.

Aku mengingatnya,

Ketika 'dia' selalu bermanis-manis di depan papa, sementara ancaman selalu kudapat di belakangnya. Aku, adik juga...diancam untuk tidak melapor pada papa tentang perlakukan kasar'nya' pada kami.

Memang aku tak pernah mengadu pada papa, bukan karena 'dia' yang mengancam lalu kuturuti. Tapi, mamalah yang selalu memintaku (juga adik) untuk tidak membebani papa dengan masalah di rumah. "Papa pasti sudah capek di kantor, jangan ditambahi lagi dengan masalah di rumah," kata mama selalu terngiang hingga menahanku untuk tak bersuara di depan papa.

Baru kusadari sekarang, aku sudah diajak untuk berpikir dewasa sejak aku masih di sekolah dasar...

Aku mengingatnya,

Ketika aksi'nya' semakin brutal menyakiti tiga perempuan di rumah. Meneror kami dengan segala kekejaman yang membuahkan trauma.

Dan aku selalu tak memiliki daya untuk membalas tiap kekasaran'nya'. Padahal, aku tak sesabar mama, sungguh aku tak bisa menahan gejolak amarah dalam hati. Damn! Aku hanya bisa meneteskan air mata atau memilih untuk tidak berada di rumah. Ah, untungnya saluran eksplorasi diriku ke arah yang positif.

Aku mengingatnya,

Ketika stik golf itu melebamkan kaki mama, padahal kala itu mama tengah hamil adikku yang kedua. Ya Allah, ini apa? Mamaku? Ibuku? Bundaku? Sumpah ingin ku tak sekadar teriak saat itu (bahkan tak cuma teriak).

Andai ada yang tahu, seperti apa emosi gadis kecil yang teramat mencintai mamanya kemudian melihat dengan mata kepala sendiri ketika mamanya disakiti?

Crab! Disakiti seperti itu, mama masih bisa sabar dan memaafkan'nya'? Kesabaran macam apa yang mama punya, tak berbagi dengan papa pula. Ow GoD...

Aku mengingatnya,

Ketika tamparan demi tamparan, tendangan demi tendangan, lemparan demi lemparan menjadi makananku sehari-hari di rumah.

Mendengar suara piring dilempar, gelas dilempar, "Prang...prang...prang...". Akhirnya jadi sangat familiar di telingaku. Belum lagi pintu kamar yang ditendang dengan kekuatan ala setan marah, entah berapa kali sudah pintu kamarku dan adik jebol...

Ketakutan...ketakutan...dan ketakutan lagi. airmata...airmata...dan airmata lagi...

Memunguti serpihan kaca yang khawatir menelisip di kaki. Membenahi pintu yang tampak peyot dan reyot supaya tak dicurigai papa...Itulah yang kami lakukan untuk'nya'.

Aku mengingatnya,

Ketika jantung ini berdegup sangat kencang tiap kali berjarak dekat dengan 'dia'. Aku sadar, degup itu hanya akibat dari rasa takut yang teramat sangat. Telapak tangan terasa beku dan kadang juga gemetaran.

Ya Allah, 'dia' bukan mama yang mengandungku, bukan papa yang menafkahiku, kenapa begini?

Aku mengingatnya,

Ketika rokok yang menyala itu dijulur-julurkan ke wajahku, abu panasnya mengenai tanganku. Dan ketika kepalaku didorong hingga kerap aku tersungkur.

Aku memang membalas. Tapi, hanya bisa membalas semampuku, dan tetap saja energiku tak mampu mengalahkannya. Yang tersisa hanya airmata, ketakutan, dan kebencian yang teramat.

Aku mengingatnya,

Ketika kata-kata penuh kenistaan dilontarkan'nya' padaku. Bukan sakit fisik saja, psikologisku sudah trauma tak karuan juga mestinya.

Aku hanya bisa mengajak'nya' bertengkar mulut dengan sedikit ilmu. Dan faktanya 'ia' tak pernah menang. Sehingga serangan fisik pun selalu menjadi ujung kemenangan'nya' menaklukkan aku.

Aku mengingatnya,

Ketika aku dipermalukan di hadapan teman-teman dekatku. Ketika 'ia' merusak semua hubungan baikku dengan teman-temanku. Tanpa sedikitpun meminta maaf padaku dan terus saja mencaci dan menyerangku.

Ya Allah, kesakitan apalagi yang harus kualami karena'nya'?

Aku mengingatnya,

Ketika ia memfitnah keluarga'nya' di hadapan para wanita yang hanya diisap madunya. Haruskah aku memisuh demi orang seperti 'dia'? Atau, pisuhan macam apa yang bisa kuteriakkan pada'nya'?

Aku mengingatnya,

Ketika batas kesabaranku habis, dan aku berusaha sekuat tenaga membalas semua kesakitanku.

Aku tak bisa! Hanya mampu berteriak, berusaha menyerang tanpa pedulikan fisikku (yang ternyata tak pernah kuat). Selalu dan selalu, kesesakkan hatiku hanya berujung pada kondisi tak sadarkan diri. Aku seperti pesakitan dibuat'nya'.

Aku mengingatnya,

Ketika aku sudah mulai mandiri, berusaha sekuat tenaga untuk mengurangi beban orangtua, dan 'dia' masih sangat tergantung. Tak sedikitpun 'ia' malu padaku atau adikku yang selalu berusaha menjadi yang terbaik hanya untuk orangtua. Tetap saja, tak henti meminta injeksi dana untuk biaya hidup mewah'nya'. Aku hanya bisa merana untuk ke sekian kali menghadapi'nya'.

Aku mengingatnya,

Ketika terakhir bertemu, hanya keapatisan yang bisa kutunjukkan pada'nya'. Pertengkaran, terjadi lagi. Adik kecilku ketakutan, ia merengkuhku seakan memohon agar aku tetap kuat. Sayang aku tak bisa, lagi-lagi aku tumbang. Pingsan di hadapan semua keluarga.

Sungguh, traumaku pada'nya' sangat mendalam hinggaku tak mampu menahan semua ini dan mengalirkannya dalam satu postingan blog.

Aku mengingatnya, dan akan selalu mengingatnya...karena bagaimanapun juga, 'dia' adalah seseorang yang seharusnya kupanggil kakak. Sayang, hanya ada satu masa manis dengan'nya' seumur hidupku bernapas. Tak sekalipun aku pernah merasakan bahagianya menjadi seorang adiknya. That's why, there are anyone out there whom i respect as my old bro. Then, who will treat me as a lil sister?

Hahaha...kutunggu kehilanganmu kelamku...

:: Dia yang Terbaik ::

Berdiri di hadapnya bukanlah hal baru bagiku. Tapi kenapa rasa kali ini berbeda? Ada canggung dan desir hangat yang menyelimutiku selama menatapnya. Bukan hal yang baru pula jika aku menyalaminya, tapi kenapa rasanya ingin kugenggam selalu tangannya? Kuberikan senyum termanisku di pagi yang hangat, meski lelah luar biasa tengah kuresap. Aku hanya ingin dia tahu, bahwa aku bangga padanya, bangga menjadi bagian dari perjuangannya.

Dia hanya tersenyum di hadapku, tanpa kutahu apa yang sebenarnya ia rasa. Ah, kami berdiri di pinggir trotoar, waktupun tak banyak karena ia harus menjalani ritualnya di dalam hotel megah itu. Aku harus lekas pergi. Sebelum ia terlambat, sebelum adikku terlambat, dan sebelum air mataku menetes lagi. Entah akan kubawa ke mana perasaan ini...

Satu yang kusadari pasti dalam hati, dia yang terbaik...

:: Dengan Sangat ::

I'm not that tough. Aku termangu memandang cermin yang membiaskan bayang diriku. Kutatap dalam mataku, nyaris tanpa berkedip. Semakin dalam kutatap, semakin tersayatlah hati ini. Perih, sungguh perih rasanya hati ini. Kilau air di pelupuk mataku sudah tampak, tinggal putar sedikit saja bola mata, aku yakin air itu akan terjatuh.

Aku menyadari satu hal, bahwa ada yang hilang dari diriku. Bukan sekadar dia yang masih sangat kucinta, tapi juga keajaiban-keajaiban kecilku. Aku sedang apa? Kenapa aku bisa kehilangan? Walau telat, seorang teman menyadarkanku dari 'lelap'nya tidur tak nyenyak. Kuratapi diriku, bagaimana mungkin aktivitasku merenggut waktu yang sangat berharga dariku? Bukan tak kunikmati itu, tapi seharusnya tak perlu sampai begini. Ah, andai aku bisa mengulang masaku...

Memang, 'andai'ku tak akan bisa terwujud, aku harus melangkah ke depan. Berusaha sekuat tenaga membuktikan bahwa aku setia...Ya, aku setia dengan janjiku. Bahwa suatu hari aku hanya akan menghabiskan waktu bersama diri'nya' dan si kecil. Aktualisasi memang kuingin, tapi tak begini. Siapa mau mengerti?

Aku tak mau banyak bicara lagi, selama rasa ini masih ada dalam hatiku dan dalam hatinya, aku akan berjuang. Kemarin, aku dapat satu quotes dari sebuah  serial. Kayak gini nih: "Selama kita masih berharap, apa yang hilang pasti bisa kembali kok!" Seorang teman juga bilang, ada secercah harapan.

Sayang, aku memang takut, aku memang tak berani, aku tak punya nyali untuk berharap...tapi hati tak bisa memungkiri, aku masih mendambanya. Pasrah saja, minta diberikan yang terbaik (ah, selama ini dia yang terbaik).

"Ya Allah, kumohon dengan sangat..."

:: Menangis dengan Alasan ::

Kalau beberapa waktu lalu aku pernah menulis bahwa aku ingin menangis meskipun tanpa alasan. Kali ini aku menangis, tapi menangis dengan alasan. Rasanya udah lama banget aku nggak nangis karena bahagia, tapi hari ini, pagi (agak siang ding), aku menangis karena bahagia. "Ow GOD, i'm cry...i'm happy. It just like i have a (very) great moment in my life" ^_^

Sebenernya, tadi pagi tuh entah kenapa aku merasa gelisah. Sangat gelisah malah! Jantungku terasa berdegup lebih cepat (bukan lagu lho!). Nggak bisa relaks, gak tau kenapa. Aku berusaha sekuat tenaga untuk berkonsentrasi, setidaknya menyelesaikan satu saja tulisanku. But, I CAN'T. Semua bergulir dalam otakku. Film yang tanpa kupinta selalu saja muncul itu terputar dengan cepat. Uh, sesak! Sesak banget rasanya...

Perlahan, air mata kesakitanku lepas dari landasan. "Ya Allah, perih itu masih sangat terasa, apa yang sudah kulakukan???" Aku menyadari sesuatu, bahwa aku masih sangat mencintainya. Bahwa aku masih sangat merindukannya. Walau hanya dua kata, itu terlalu berarti bagi seorang AKU. Ya, aku yang tak kunjung mengerti makna perjalanan cintaku. (ow NoN, please...ini dia "penyesalan selalu datang terlambat").

Pagi (menjelang siang tadi), aku hampir tak kuasa menahan kesesakanku. Sudah terbayang kamar putih yang akan memnyuplaiku oksigen seprti dulu aku tak sadarkan diri. Aku tak mau...aku tak mau...aku tak mau...

"DEG!" Tiba2 saja jantungku berdegup semakin kencang ketika dering HP CDMAku berbunyi. (nb: HP ini biasanya ku-silent krn aku 'takut' kalau dia berbunyi). Namun, bunyinya kali ini membuatku pasrah...

Aku mengangkatnya, dan..."Is it real, is that you?". Begitu jawabannya meluncur, seketika itu juga aku menangis. Aku menangis karena bahagia. BAHAGIA sekali!!! Aku bisa mendengar suaranya...Aku bisa mendengar tawanya...Aku bisa menikmati leluconnya...Aku bisa bicara lagi dengannya...YA Allah, indahnya karuniaMU hari ini...

:: Rewrite (based on Dity's page): The Curse Of Salt Island ::

Alkisah dua tahun lalu, 5 orang sahabat pergi ke sebuah pulau misterius. Mereka berlima duduk di bangku paling belakang sebuah kendaraan berkecepatan tinggi. Tanpa menghiraukan sopir yang ugal-ugalan mereka bermain truth or dare. Tidak mereka sadari kalo permainan tersebut bakal mengancam jiwa mereka satu per satu kelak kemudian hari.

Kejadian buruk mulai terjadi sebulan setelah perjalanan itu... Salah satu di antara mereka yang paling kecil putus cinta dengan pacarnya yang rada freak. Tak beberapa lama, seorang lagi yang paling o'on putus cinta dengan kekasihnya yang menurutnya nggak perhatian lagi. Nah nah... tinggal 3 orang nih ceritanya. Satu cowok, ganteeeng banget, dan waktu itu masih jomblo. Yang dua lagi cewek .. mmm... bisa dibilang cewek yang pinterlah dua orang ini Udah gitu mereka udah pacaran lamaaaa banget sama pacar-pacarnya, jadi nggak kepikir mereka bakal ikut terkena kutukan itu.

Satu tahun kemudian, sebuah peristiwa mengejutkan terjadi.... salah satu cewek itu membeberkan fakta bahwa dia udah "selesai" dengan kekasihnya. Hhhh... padahal siapapun bakal mikir kalo mereka itu nggak akan bubar. Jadi tinggal 2 nih yang belum kena kutukan. Cowok ganteng itu dan gadis lincah itu.

Dua tahun berlalu... dua orang ini masih terlihat aman-aman saja dari kutukan maut itu. Dan dua hari yang lalu, sebuah kabar mengejutkan .... si gadis kecil itu putus juga cintanya... hhhh..... dan sekarang tinggallah cowok ganteng itu dengan cintanya berjuang melawan The Curse Of Salt Island.

PS: Kisah ini untuk "keluargaku" tercinta.... Keluarga Tsu. Berjuanglah dengan cinta kalian, guys...